"Kita sudah cukup begini, kita hanya punya nama baik, itu saja yang harus kita jaga terus." (Muhammad Hatta)

Kultweet Sinar Bulan

Sabtu, 15 Maret 2014

Ketahuilah, sinar bulan itu masih terlalu terang, dan aku masih terlalu takut untuk tak menatapnya...

Aku takut malamku akan terlihat sangat gelap, gelap padam tanpa sinar bulannya. Kau tahu kan, gelap malam itu tak pernah ada batas, luas.

Bisa saja di gelap malam itu aku diterkam keresahan. Lalu, aku terdoktrinasi ideologi Neo-pesimisme, dimana pengecut adalah tokohnya. Ahh...

Dan saat itu terjadi, maka aku akan hilang dari coretan-coretan sejarah mencerahkan. Aku menjadi rentan terhadap kebodohan-kebodohan.

Jadi percayalah, saat ini sinar bulan itu teramat penting buatku. Jika saja ada imitasinya, akan kubeli meski harus menjual harga diri.

Baiklah, aku memang harus menjadi mengerti, mau tak mau. Sinar bulan itu tak pernah berniat meradiasi hati ini dengan cahaya kehidupannya...

...hanya aku yang selalu berniat bahwa menatapnya adalah sebuah ego yang harus dipertahankan. Ego subversif yang melawan nalar.

Tapi masih ada kekuatan doa, kekuatan yang tak pernah dilecehkan oleh kekuatan apa pun. Doa.

---------------------------
Tangerang, 15 Maret 2014
00.35 - 01.03

i-Rasional (Bagian 1)

Kamis, 06 Maret 2014

Petang itu aku berjalan di antara angin yang mesra membelai sejuk sel kulit. Begitu sejuk, sampai-sampai aku seolah dirayu untuk menemukannya, mengenalnya bahkan mencintainya. Pikirku, mungkin ini hanyalah cara angin mencari perhatian. Tapi harus ku akui, cara angin mencari perhatian seperti itu sangat hebat. Membelai dengan lembut tak terlihat. Mataku tak pernah tahu, tapi angin tetap keras kepala membelai mesra diriku, meski sebenarnya ia tahu bahwa apa yang ia lakukan kepadaku itu sia-sia, aku tak bisa membalas membelainya.

        Cara angin memperlakukanku itu mirip cinta. Karena cinta, angin tak peduli meski aku dan bermilyar-milyar manusia, dan putik dari berbagai penjuru padang bunga, dan dedaunan pepohonan yang tak terhingga dan tentu benda-benda tak bernafas yang tak pernah di sensus, yang pernah ia belai tak akan pernah bisa membalas naluri cintanya tersebut. Tak akan pernah bisa. Karena kenyataannya angin tercipta lebih tak beruntung dibanding aku sebagai manusia. Dia tak pernah mendapat balasan dari hal-hal yang pernah ia bantu atas jasa-jasanya sebagai sang pembawa hembusan yang bisa memindahkan benda kasatmata meski ia tak kasatmata.

        Baiklah, aku tak ingin menceritakan romantisnya angin, karena angin memang bukan levelku. Angin adalah teman air, api dan matahari, yang semuanya memiliki naluri cinta begitu hebat, tak pernah meminta balas budi atas jasa yang mereka berikan. Sedangkan aku hanyalah sesuatu yang lemah, keturunan dari sesuatu yang tercipta dari tanah, diberi akal memiliki nafsu, yang biasa disebut manusia, yang oleh angin dan teman-temannya terkadang dicap menjadi aib di keselarasan alam mereka.

Bukan Prolog

Rabu, 05 Maret 2014


Selamat malam neng,
gw harap lu itu bukan bintang yg memilih menjadi manusia,
atau anak dari sinar bulan yang kabur, dan memilih bumi sebagai pelarian.

Akan Aku Tumbuhkan

Minggu, 23 Februari 2014

Akan aku tumbuhkan cinta itu menjadi pohon terbaik di kehidupan, 
hingga akarnya menjalar menghisap habis suburnya kerisauan,
hingga batangnya kokoh menjadi tempat nafsu bersandar, 
hingga daunnya rimbun meneduhkan kebencian. 

Akan aku tumbuhkan.


----------------------------------------------

Tangerang, 23 Februari 2014.
01:19
----------------------------------------------

Setidaknya...

Selasa, 18 Februari 2014

Setidaknya...
Aku Sudah Menemukan Alamat Rumah Bapakmu,
Aku Sudah Mendapatkan Nomor Telepon Barumu,
Aku Sudah Tak Sopan di Hari Ulang Tahunmu,
Aku Sudah Tak Asyik di Malam Itu Ngobrol Denganmu,