![]() |
sumber: bintang.co |
Assalamu’alaikum, Wr, Wb.
Sesekali bolehlah saya bikin tulisan iseng dan tentu saja
tidak bermakna seperti tulisan-tulisan saya sebelumnya. Hehehe...
Ya kali ini saya akan ngomongin dangdut. Salah satu jenis
musik yang irama dan liriknya dapat
dengan mudah diterima oleh kalangan akar rumput seperti saya. Salah satu jenis
musik yang irama dan liriknya selalu laris manis saat musim adu politik tiba.
Salah satu jenis musik yang irama dan liriknya selalu dipandang jauh dari
kemahsyuran seni ala barat oleh para nasionalis borjuis peniru barat, yang
menganggap bahwa dangdut tidak bisa sejajar dengan musik jazz atau musik klasik.
Padahal saya yakin, seandainya dulu Miles Davis dan Wolfgang Amadeus Mozart
sudah mendengarkan lagu Rembulan Bersinar Lagi kepunyaan ayah Mansyur S, mereka tentu akan memuji-muji
bagaimana dangdut bisa begitu easy
listening di telinga (kalau gak
percaya, datang aja sono ke kuburannya Mozart bawa VCD-nya Mansyur S).
Meski dari sisi gengsi dalam label intelektualitas dangdut
kalah pamor, setidaknya di Indonesia kini dangdut menjadi jenis musik yang menguntungkan
secara komersil. Terbukti, penyanyi-penyanyi dangdut Ibukota yang sudah masuk
TV Nasional sudah bisa hidup bergelimang harta. Juga acara-acara musik dangdut
yang kian hari kian dikemas menarik dan glamour baik di TV-TV maupun di acara
hajatan-hajatan, meski kadang mengenyampingkan etika.