sejak kapan kalian tega
dokter, suster, mantri, dan satpam jaga
sepupuku baru saja kena PHK
kalian minta sepuluh juta
anak balitanya kena DBD
kami minta UGD
kalian minta DP sepuluh juta
anak balitanya baru akan sehat sentosa
buat dokter di rumah sakit mahal
Minggu, 17 April 2016
Kapitalisme Agama di Indonesia Menurut Profesor Agung Tampan
Jumat, 15 April 2016
Dalam kapitalisme ada yang disebut ‘komoditi’, sesuatu yang memiliki nilai guna dan nilai tukar. Karl Marx berkata bahwa “Untuk menjadi sebuah komoditi, sebuah produk harus bisa ditransfer kepada yang lain, di mana produk tersebut tetap memiliki nilai guna melalui alat pertukaran.”
Lalu bagaimana jika kapitalisme telah menjadikan agama sebagai komoditas? Mungkinkah kapitalisme agama terjadi di Indonesia?
Menurut seorang filsuf kuno nan katro bernama Profesor Agung Tampan dalam bukunya yang berjudul ‘The Theory of Ngeblang and Thinking Revolutionair Like Mario Teguh Golden Ways’ yang tidak pernah diterbitkan mengatakan bahwa “Hal itu seharusnya tidak bisa terjadi, karena agama sejatinya hanya boleh memiliki nilai guna. Nilai guna bagi hambanya terhadap Tuhannya. Nilai guna berupa kepatuhan seorang hamba kepada Tuhannya.”
Lalu bagaimana jika kapitalisme telah menjadikan agama sebagai komoditas? Mungkinkah kapitalisme agama terjadi di Indonesia?
Menurut seorang filsuf kuno nan katro bernama Profesor Agung Tampan dalam bukunya yang berjudul ‘The Theory of Ngeblang and Thinking Revolutionair Like Mario Teguh Golden Ways’ yang tidak pernah diterbitkan mengatakan bahwa “Hal itu seharusnya tidak bisa terjadi, karena agama sejatinya hanya boleh memiliki nilai guna. Nilai guna bagi hambanya terhadap Tuhannya. Nilai guna berupa kepatuhan seorang hamba kepada Tuhannya.”
Kategori
Aneh-aneh dan ngasal,
Opini dan Realita
Sajak 2016
Senin, 11 April 2016
Orang kota makin ganas.
Tak cukup hilir mudik peti kemas.
Dan uang-uang di brankas.
Pendidikan, kesehatan, dan agama pun dijadikan komoditas.
Dijual mahal lewat bujuk rayu masa depan berkilau emas.
Ah sialan, kampungku menjadi kota, dan duitku tak pernah cukup membeli itu
---------
Tangerang, 11 April 2016.
Tak cukup hilir mudik peti kemas.
Dan uang-uang di brankas.
Pendidikan, kesehatan, dan agama pun dijadikan komoditas.
Dijual mahal lewat bujuk rayu masa depan berkilau emas.
Ah sialan, kampungku menjadi kota, dan duitku tak pernah cukup membeli itu
---------
Tangerang, 11 April 2016.
Status Gajeboku Buat Taksi Plat Kuning vs Plat Hitam
Selasa, 22 Maret 2016
Dasar orang kota, maruk sama matrenya gak abis-abis. Kalo udah punya kerjaan tetap, punya gaji tinggi, punya kerjaan sesuai ijazah ngapain banting stir atau nyambi jadi gojek? Jadi supir uber, atau nyewa-nyewain mobil buat diduitin?
Kasian tau supir taksi plat kuning, juga tukang ojek yg gaptek. Kalian itu emang gak punya hati.
Oke, rezeki emang masing-masing, tapi cara maruk lu itu gak jauh beda sama cara kapitalis mencari kekayaan sebanyak-banyaknya seenak jidat. Bikin jurang kesenjangan makin jauh aja antara si kaya dan si kismin.
Kalo udah gini siapa yang disalahin? Ya menterinya lah sama presidennya, kenapa 70 tahun merdeka pemerataan ekonomi gak pernah menyentuh sampai sudut-sudut desa?
Terakhir, bersyukurlah orang-orang desa, karena hidup kalian gak serumit orang-orang kota.
Demikian dan terima kasih.
*ngopi aja dulu sambil menikmati sawah-sawah yg mulai menghijau*
---------
Repost dari status epbe :D
Kategori
Aneh-aneh dan ngasal,
Opini dan Realita
sajak teh dan sore hari
Jumat, 04 Maret 2016
habis sudah bosan ini
kuseruput satu kali
teh panas sedikit gula
gulanya gula kiloan
siapa peduli
habis sudah payah ini
kuseruput dua kali
teh panas sedikit gula
tehnya teh sachetan
siapa peduli
Langganan:
Postingan (Atom)