"Kita sudah cukup begini, kita hanya punya nama baik, itu saja yang harus kita jaga terus." (Muhammad Hatta)

Buat Muthi

Minggu, 07 Juni 2015

Buat Muthi, gadis yang selalu aku puja dalam waktu dan doa-doa
Tak perlu kamu meminta maaf
Kepadaku yang tak pernah jantan memperjuangkanmu
Kepadaku yang tak pernah nyata berkorban untukmu
Justru maafkanlah aku, telah hadir di ceritamu
Mengganggu hidupmu atas nama cinta, meski memang sebenarnya cinta

Buat Muthi, gadis manis yang senyumnya membuat hati ini tak berdaya
Kamu bilang, waktuku terbuang sia-sia hanya karena menunggumu
Ketahuilah duhai neng geulis idaman yang tak pernah menjadi kabogoh
Dalam berharap pada cinta, tak ada waktu yang terbuang sia-sia
Dalam berharap pada cinta, tak ada yang sia-sia
Kamu tak pernah sia-sia di cerita hidupku

Buat Muthi, perempuan berhati tangguh yang aku kagumi setelah ibu
Kamu bilang, yakinlah bahwa aku bisa menemukan yang lebih baik darimu
Ketahuilah duhai neng geulis yang tak pernah kuberi mawar bodas
Tak ada yang lebih baik darimu, pun lebih buruk
Semua perempuan itu sama saja
Mereka ingin selalu dipuja-puji, disayangi, dihargai, dan dimengerti
Mereka selalu suka kata rayu gombal yang langsung keluar dari mulut lelaki
Ketahuilah duhai neng geulis yang tak pernah kurayu dengan mawar merah
Tak setiap lelaki bisa melakukan itu
Sebagian kecil kaum lelaki adalah pengecut, dan aku ada diantara itu

Buat Muthi, ini sajak cinta terakhirku
Sebetulnya aku ingin merayu gombal, rayu gombal panjang dalam sajak ini
Tapi apa daya, kamu memintaku untuk tak perlu lagi berharap
Tentang cinta kepadamu
Tentang rancangan perjuangan dan pengorbangan yang selalu aku rencanakan
Beberapa diantaranya tak pernah berjalan
Karena bodohnya aku, terlalu percaya kepada perkiraan logis dan kepengecutan

Buat Muthi, ini sajak cinta terakhirku
Sayangku
Maaf, kusebut kamu ‘sayangku’
Jaga hatimu baik-baik
Jaga kesehatanmu baik-baik
Jaga dirimu baik-baik
Tetap semangat dan tersenyumlah

Buat Muthi, ini sajak cinta terakhirku
Jika kelak Sang Maha Segala Maha mengizinkan aku memiliki seorang putra
Yang sama persis sepertiku
Akan kuceritakan tentangmu
Akan kuceritakan bahwa menjadi lelaki itu harus jadi pemberani dan tak boleh cengeng

Sekali lagi aku mohon maaf, setelah tiga tahun perkenalan dan perjuangan cemen
Ada kata dan makna yang menyakitimu
Terima kasih telah hadir di cerita hidupku
Sampai jumpa


-------------
Tangerang, 07 Juni 2015
Buat Nabilah Muthi Karima, ini cuma sekedar curahan hati terakhirku
Di antara tangisku kemarin sore dan harapan untuk melupakanmu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kalau mau komen silahkan komen. Siapa aja boleh komen, apa aja asal tidak menghina SARA. Woles men...