"Kita sudah cukup begini, kita hanya punya nama baik, itu saja yang harus kita jaga terus." (Muhammad Hatta)

Widji Thukul, Sang Sastrawan Gembel - Hilang Karena Berperang Melawan Tirani Murahan.

Minggu, 12 Juni 2011

"Widji Thukul, Sang Sastrawan Gembel - Hilang Karena Berperang Melawan Tirani Murahan." Itulah judul yang bakal gue tulis kali ini. Yappzzz.... Tentang Widji Thukul teman... Seorang Sastrawan besar yang lahir dari keluarga tukang becak. Seorang pujangga miskin yang hingga kini hilang tak berjejak.
Source : Wikipedia
Pertama kali gue tahu bahwa ada sastrawan besar bernama Widji Thukul adalah saat gue baca buku 23 Naskah Terbaik Lomba Mengulas Karya Sastra, sebuah buku yang gue ambil dari tas abang gue yang waktu itu dia masih kelas 3 SMEA.

Gue suka Widji ini karena kejeniusannya dalam merangkai kata. Puisinya terkenal banyak memberontak, ya apalagi kalau bukan mengkritik habis-habisan Orde Baru. Namun bukan itu yang gue suka, yang paling gue suka adalah gaya hiperbola total dengan bahasa sederhana, yang justru terlihat puisinya menjadi seperti kontemporer tapi bermakna dalam dengan artikulasi yang jelas bahwa ia gelisah akan putaran cekikan kedzaliman zaman. (Hehehehe, ini bukan Blank-think lho... Nggak ngarti kan? Sama...).

Puisinya yang paling terkenal adalah 'Aku Ingin Jadi Peluru', yang juga dijadikan judul dalam antologi puisinya yang paling terkenal.

Tapi yang paling gue suka adalah puisinya yang berjudul 'Kucing, Ikan Asin Dan Aku'. Berikut ini mahakaryanya yang paling gue suka.

KUCING, IKAN ASIN DAN AKU
Seekor kucing kurus
menggondol ikan asin
laukku untuk siang ini
aku meloncat
kuraih
pisau
biar
kubacok ia
biar
mampus


ia tak lari
tapi mendongak
menatapku
tajam


mendadak
lunglai
tanganku
-aku melihat diriku sendiri!

lalu kami berbagi
kuberi ia kepalanya
(batal nyawa melayang)
aku hidup
ia hidup
kami sama-sama makan


Pokoknya no komento deh buat puisi di atas... (Hahahaha, bilang aja genk lu nggak bisa menganalisa sebuah karya sastra... Wkwkwkwkwk...).

Kini bagaimana buat anda-anda, elo-lo dan elo, Kamu-kamu atau maneh-maneh sadayana... Punyakah seorang satrawan favorit...?

Terakhir, "Hanya satu kata... Lawan !". Hehehehe... Ngikutin Widji Thukul...
Oh iya, semoga postingan ini bermanfaat ya...

Saatnya Ngaleungit (Menghilang dalam bahasa sunda)...
Salamulikum.... Haturnuhun...

7 komentar:

  1. Saya agak telat sih kenal sama Widji Thukul, 2007an. Malah saya sempat kesaru soal kematiannya dengan seorang penyair juga yang meninggak ditabrak motor.

    Saya cuma tahu profilnya, sementara karyanya belum pada tau Genk.

    BalasHapus
  2. @om payjo... beda setahun sama gw.. gw tahun 2006 tuh ada whiji tukul....

    wah baru tau gw kalo doi ktabrak motor... wkwkwkwk

    BalasHapus
  3. Belum pernah baca-baca karya Widji Thukul kecuali yang Kamu tulis di atas

    BalasHapus
  4. @kang kombor.. saya juga belum baca semua karyanya... kecuali yang ada di 23 naskah terbaik sama di internet....

    BalasHapus
  5. apik
    terharu
    biar
    aku menangis
    biar
    kau menertawakanku
    biar
    kubunuh kau
    tapi
    - aku melihat diriku sendiri

    aku ikut tertawa
    kita tertawa bareng

    - ndop thukul -

    BalasHapus
  6. @mas Ndop... Hahahahaha, kontemporer nih...
    harusnya gini...

    Kubunuh kau
    Tapi
    -Nggak jadi ah, takut masuk neraka

    Wakakakakakakakak...

    BalasHapus
  7. Saya juga "jempol" dengan karya-karyanya.... tapi sayang mas brow, setahu saya WT bagian dari "GARIS MERAH" yang notabene PRD didalamnya...

    BalasHapus

Kalau mau komen silahkan komen. Siapa aja boleh komen, apa aja asal tidak menghina SARA. Woles men...